Friday, November 19, 2010

Menghormati orang yang lebih tua


Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk menaruh rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dan menyayangi mereka yang lebih muda. Ini merupakan wujud dari akhlaqul mahmudah.

Banyak kaum muslim akhir-akhir ini yang kurang memberikan perhatian dalam penghormatan terhadap yang lebih tua dan kurang memberikan kasih sayang terhadap yang lebih muda. Sehingga ini memberikan pencitraan yang kurang baik terhadap Islam itu sendiri.

Dalam hal ini ada sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan juga oleh Al-Hakim bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa tidak menaruh hormat pada orang yang lebih tua di antara kami atau tidak mengasihi yang lebih muda, tidaklah termasuk golongan kami"

Pernyataan dari Rasulullah Saw ini diharapkan dapat memberikan lecutan dan semangat agar hormat-menghormati dan sayang menyayangi menjadi bagian hidup kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan saling menghormati dan menyayangilah suasana harmonis, damai, rukun, dan kekeluargaan akan terpancar dalam kehidupan kaum muslim.

Kita masih ingat bagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramahullaahu Wajhah menghormati seorang lelaki tua yang notabene adalah orang Yahudi. Padahal waktu itu Sayyidina Ali r.a., sedang tergesa-gesa berangkat shalat shubuh berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun dalam ketergesaannya itu, di depan Sayyidina Ali r.a., ada seorang tua dengan tongkat berjalan dengan tertatih-tatih. Di tangannya memegang lentera untuk menerangi jalannya.

Sayyidina Ali r.a., tidak lantas mendahului orang tua itu, melainkan ia berjalan di belakangnya. Karuan saja sayyidina Ali terlambat datang berjamaah di masjid. Sayangnya, ternyata lelaki tua itu tidak ikut masuk ke masjid untuk shalat shubuh, karena lelaki tua itu ternyata adalah seorang Yahudi.

Ketika masuk masjid, Sayyidina Ali r.a., menjumpai Rasulullah sedang rukuk. Memang waktu itu Rasulullah Saw memanjangkan rukuknya sehingga Sayyidina Ali r.a., dapat shalat shubuh berjamaah bersama dengan Rasulullah Saw menjadi makmum.

Seusai melaksanakan shalat, Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah Saw, kenapa Rasulullah memanjangkan rukuknya dan itu belum pernah dijumpai oleh Sayyidina Ali r.a., sebelumnya.

Rasulullah Saw menjawab, bahwa ketika ia rukuk, sebelum kepalanya tegak, malaikat Jibril menekan punggungnya sampai lama. Setelah lama menekan punggung Rasulullah, Rasulullah baru bisa mengangkat kepalanya membaca iktidal.

Mendengar itu, Sayyidina Ali r.a., menceritakan peristiwa yang baru saja dialami ketika hendak berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Rupanya Allah SwT memberikan isyarat kepada Rasulullah Saw agar Sayyidina Ali dapat ikut berjamaah.

Dalam riwayat lain yang sangat mengagumkan adalah bahwa malaikat Mikail diperintahkan untuk memperlambat laju matahari hanya agar Sayyidina Ali dapat ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw.

Begitulah seorang sahabat, menantu, salah satu Khalifah umat Islam dan orang yang termasuk ahli surga sesuai dengan janji Rasulullah Saw, menghormati orang yang lebih tua, meskipun orang tua itu beragama Yahudi, bukan beragama Islam. Di sinilah letak indahnya agama Islam jika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia akan harmonis tanpa kekacauan dengan mengamalkan sebuah ajaran “Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.” Wallaahu a’lam.




p/s: Jangan sesekali tiru aksi ini.







4 comments:

  1. geram tol dak 2...dorg lebih mulia ,,
    ALLAH uji dye jadi mcm 2,,
    spatutnyer kita ni..bantu la mereka..
    sedih tol aq tgok

    ReplyDelete
  2. geram tol dak 2...dorg lebih mulia ,,
    ALLAH uji dye jadi mcm 2,,
    spatutnyer kita ni..bantu la mereka..
    sedih tol aq tgok

    ReplyDelete
  3. geram tol dak 2...dorg lebih mulia ,,
    ALLAH uji dye jadi mcm 2,,
    spatutnyer kita ni..bantu la mereka..
    sedih tol aq tgok

    ReplyDelete
  4. budak tu tiada didikan yang betul. salah diri sendiri dan ibu bapa :)

    ReplyDelete

Confirm cium bau syurga